Selasa, 10 Desember 2019

Identitas bentuk-bentuk Lahan di Pulau papua

 


              Identifikasi  Bentuk-bentuk Lahan yang ada di di Pulau Papua



GEOMORFOLOGI PULAU PAPUA

geomorfologi adalah bentuk lahan yang tersusun pada permukaan bumi di daratan maupun penyusun muka bumi di dasar laut. Kondisi geomorfologi yang dimiliki suatu daerah merupakan sumberdaya alam. Salah satu bagian dari sumberdaya alam adalah sumberdaya lahan. Pemanfaatan sumberdaya lahan yang seoptimal mungkin menjadi suatu keharusan agar mendapat hasil yang optimal. Dengan menggunakan data penginderaan jauh maka pengkaitan bentuk lahan dapat dilakukan analisis.

       Bentang lahan akan mudah diidentifikasi dengan pandangan jarak jauh atau kalau menggunakan foto udara atau citra satelit menggunakan skala gambar kecil. Sebaliknya untuk bentang lahan mudah diamati dari jarak dekat atau dengan foto udara atau citra satelit dengan skala lebih besar. Dengan pengamatan dan analisis bentuk lahan dari foto udara akan diperoleh informasi biofisik lainnya baik yang bersifat sebagai parameter tetap (landform, rock, soil, slope) maupun parameter berubah (erosion, terrace, land use). Dengan melakukan fieldtrip akan semakin dikenal betul macam bentuk lahan dilapangan, sehingga mudah untuk mengingatnya kembali jika pernah melihat secara langsung dan sebagai bekal memori pada saat melakukan interpretasi foto udara (IFU).
   
   Penyederhanaan muka bumi yang kompleks ini membentuk suatu unit-unit yang mempunyai kesamaan dalam sifat dan perwatakannya. Kesatuan sifat ini meliputi kesamaan struktur geologis atau geomorfologis sebagai asal pembentukannya, proses geomorfologis sebagai pemberi informasi bagaimana lahan terbentuk, dan kesan topografis yang akan memberikan informasi tentang konfigurasi permukaan lahan. Dengan adanya informasi tersebut perencanaan penggunaan lahan secara tepat akan dapat lebih terwujud.
A.   
            Bentuk Lahan
Bentuk lahan merupakan bagian dari ruang di permukaan bumi yang memiliki kekhasan dalam hal morfologi, proses geomorfologi, material permukaan maupun batuan dasar (Verstappen, 1983). Setiap bentuklahan memiliki potensi pemanfaatan dan ancaman bencana yang khas. Berikut ini adalah bentuk-bentuk lahan yang ada di Irian Jaya :
a. Bentuk Lahan Bentukan Asal Proses Volkanis
Volkanisme adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma yang bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan vulkanik.
Umumnya suatu bentuk lahan volkanik pada suatu wilayah kompleks gunung api lebih ditekankan pada aspek yang menyangkut aktifitas kegunungapian, seperti : kepundan, kerucut semburan, medan-medan lahar, dan sebagainya. Tetapi ada juga beberapa bentukan yang berada terpisah dari kompleks gunung api misalnya dikes, slock, dan sebagainya.
Pegunungan Jayawijaya adalah nama untuk deretan pegunungan yang terbentang memanjang di tengah provinsi Papua Barat dan Papua (Indonesia) hingga Papua Newguinea di Pulau Irian. Sebelum penyatuan Papua Barat ke Indonesia, pegunungan ini dikenal dengan nama Pegunungan Orange. Deretan Pegunungan yang mempunyai beberapa puncak tertinggi di Indonesia ini terbentuk karena pengangkatan dasar laut ribuan tahun silam.
b. Bentuk Lahan Bentukan Asal Proses Struktural
Bentuk lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh control struktural. Tektonik Papua diawali pada Permo-Trias, yang sering disebut sebagai orogenesa Tasman.
Tipe tektonisme yang ada di Papua adalah Subduksi dimana dua lempeng Australia dan Pasifik menunjam, bertubrukan dan akhirnya bagian bertemunya kedua lempeng tersebut terangkat dan menjadi jalur pegunungan tengah Papua. Pada propinsi Papua terdapat Sesar Sorong yang merupakan retakan besar dalam kerak bumi yang diberi nama sesuai dengan kota Sorong di sebelah timur laut Papua.



c. Bentuk Lahan Asal Denudasional
Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Bentuk lahan ini terdapat di daerah perbukitan seperti Wilayah Pebukitan Ayamaru dan Wilayah Pebukitan Fakfak di Kepala Burung Pulau Irian.
d. Bentuk Lahan Asal Fluvial
Bentukan asal fluvial berkaitan erat dengan aktifitas sungai dan air permukaan yang berupa pengikisan, pengangkutan, dan jenis buangan pada daerah dataran rendah seperi lembah, ledok, dan dataran alluvial. Di Irian terdapat dataran rendah seperti Wilayah Dataran Rendah Selatan di Pulau utama atau Tubuh Pulau Irian, Wilayah Dataran Rendah Utara pada Leher Pulau Irian, Wilayah Dataran Rendah Kamrau dan Wilayah Dataran Rendah Berau-Bintuni pada Kepala Burung Pulau Irian.
e. Bentuk Lahan Asal Marine
Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Kawasan marin di Pulau Irian terdapat di sepanjang garis pantainya.
Pengaruh marine dapat mencapai puluhan kilometer ke arah darat, tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain yang sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya : tektonik masa lalu, berupa gunung api, perubahan muka air laut (transgresi/regresi) dan litologi penyusun. Bentuk lahan asal marin adalah sebagai berikut (Suhendra, 2009).
f. Bentuk Lahan Asal Glasial
Bentukan ini tidak berkembang di Indonesia yang beriklim tropis ini, kecuali sedikit di puncak Gunung Jaya Wijaya, Papua. Bentuk lahan asal glasial dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu bentang alam.
Semua satuan bentuk lahan tersebut memiliki karakter yang khas dan mencerminkan ciri tertentu. Dengan demikian maka, dengan mengenal nama satuan bentuk lahan akan dapat di bayangkan sifat alaminya. Satuan bentuk lahan ini sangat penting terutama dalam konteks kajian lingkungan, baik lingkungan fisik, biotis, maupun cultural.
Bentukan ini tidak berkembang di Indonesia yang beriklim tropis ini, kecuali sedikit di puncak Gunung Jaya Wijaya, Papua. Bentuk lahan asal glasial dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu bentang alam (Suhendra, 2009).
            Semua satuan bentuklahan tersebut memiliki karakter yang khas dan mencerminkan ciri tertentu. Dengan demikian maka, dengan mengenal nama satuan bentuklahan akan dapat dibayangkan sifat alaminya. Satuan bentuklahan ini sangat penting terutama dalam konteks kajian lingkungan, baik lingkungan fisik, biotis, maupun kultural (Suhendra, 2009).

1. Simpulan
a. Secara fisiografi Irian dapat dibedakan menjadi 3 bagian :
Semenanjung barat atau Kepala Burung yang dihubungkan oleh leher yang sempit dengan pulau utama, Pulau utama atau Tubuh, Bagian timur, termasuk juga ekornya.
Dangkalan Sahul adalah laut dangkal yang luas yang merupakan daratan bawah laut dari Australia. Kebanyakan pulau yang terletak pada dangkalan Sahul erat hubungannya dengan Australia.
Pulau Chritmas terletak terpencil pada bagian timur dari Samudra Indonesia. Karena letaknya dan keadaannya yang berupa pegunungan bawah laut yang arahnya timur barat, pulau tersebut membatasi palung Jawa sampai keselatan dan merupakan bagian dari pola structural dari kepulauan Indonesia.
b. Bentuk lahan yang ada di Pulau Irian yaitu Bentuk lahan Bentukan Asal Proses Volkanis, Bentuk Lahan Bentukan Asal Proses Struktural, Bentuk Lahan Asal Denudasional, Bentuk Lahan Asal Fluvial, Bentuk Lahan Asal Marine, Bentuk Lahan Asal Glasial.